all dosen ikk

DSC_0028DSC_0098 DSC_0069 DSC_0112

Reviewer pada Monev PKM Tingkat FEMA IPB..

Alhamdulillah tahun 2015 ada 7 proposal yang didanai :

1. PKM-K “Frost Relic” Seni Relief Mozaik dari Kulit Buah Lokal dengan Desain unik dan Eksotis; PKM-K

2. PKM-K “ZAPHANZA SHOP”: Bisnis Jaket Multifungsi untuk Pendaki Gunung dengan Sistem Pemasaran Berbasis Android

3. PKM-P Pengaruh Pola Penggunaa Jejaring Sosial Terhadap Kecenderungan Narsistik pada Remaja

4. PKM-M “Laboratorium Paparazi”: Wahana Edukasi Diversifikasi Pangan Berbasis Bahan Lokal dengan Inovasi Bari I-Rumpi

5. PKM-KC “TAJITSU”: Inovasi Tas Multifunsi Siaga Bencana Banjir dan Tsunami

6. PKM-M “GREEN TOILET” : Gerakan Bersih toilet dengan inovasi taman mini toilet di kampung cangkurawok desa babakan

7. PKMM “Ecomotion”: Permainan Edugreen Keseimbangan Ekosistem Yang Aplikatif Dan Menyenangkan Bagi Anak Usia Sekolah

wisuda keluarga

wisuda mawa

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Bersama Pembimbing dan Penguji

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Presentasi Ujian Terbuka

Megawati Simanjuntak, Siti Amanah, Herien Puspitawati, Pang S Asngari

ASEAN MARKETING JOURNAL.  Vol 6, No 1 (2014) June 2014. e-ISSN 2356-2242,  print ISSN 2085-5044

http://journal.ui.ac.id/index.php/amj/issue/view/515/showToc

Abstract

The purpose of this research was to analyze the profile of consumer empowerment and the influence of demographic characteristics, socio-economic status and cosmopoliteness on consumer empowerment in rural and urban area. The research finding indicated a low consumer empowerment in urban and rural area. In general, most respondents who were not categorized as empowered consumer were aged >37 years old, working in rural areas, included in income category ranged IDR 397,874.57/capita/month both in rural and urban areas, family size of ≤ 4 persons in rural areas,length of education ≤9 years in rural areas and not cosmopolite in rural areas. Higher level of education and the more cosmopolite the respondents would increase consumer empowerment both in ruraland urban area. One of the attempts in empowering consumers is by intensifying consumer education involving government, NGOs, and private sector.
By : Megawati Simanjuntak, Muhammad Mardi Dewantara

ASEAN MARKETING JOURNAL. Vol 6, No 2 (2014) December 2014. e-ISSN 2356-2242,  print ISSN 2085-5044

http://journal.ui.ac.id/index.php/amj/issue/view/555/showToc

Abstract

Halal label is a label on food that justified according to Islamic law, qualified and did not harm our health. The purpose of this research was to analyze the effect of intrinsic factors (individual characteristics and family characteristics), extrinsic factors, knowledge, religiosity and the attitude towards behavior of reading the halal label on food products of undergraduate students. This study used cross sectional study with survey method. The research involved 400 students of Bogor Agricultural University that were chosen by multistage random sampling with gender as a layer. There was significant difference between female and male in knowledge, religiosity value, and attitude in reading halal label, whereas the behavior in reading label had no significant difference. Age, religiosity value, and attitude were found affected significantly behavior of reading halal label on food products.

By :  Megawati Simanjuntak,  Siti Amanah, Herien Puspitawati, & Pang S. Asngari

Asian Journal of Business and Management (ISSN: 2321-2802) Volume 02–Issue 05, October 2014

http://www.ajouronline.com/index.php?journal=AJBM&page=article&op=view&path%5B%5D=1634&path%5B%5D=872

 

ABSTRACT—-Consumer education leads to better consumer decisions mainly regarding with consumers’ right and compulsory. The purpose of this study was to analyze the effect of demografi, socio-economic and cosmopoliteness characteristics on the intensity of consumer education. This research applied the survey method that took place in eight villages of four sub districts of district and city of Bogor. Respondents were 320 housewifes. The statistical analysis used independent sample t – test, and multiple linear regression. The study concluded that between urban and rural areas, demographic characteristics (age and family size) did not significantly differ, whereas socio-economic characteristics (income and education) and cosmopoliteness were significantly differ. In term of the intensity of consumer education, the frequency and media of consumer education were significantly different, while the clarity of the material of consumer education was not significantly different. In general, respondents with higher education levels and more cosmopolite would increase the intensity of consumer education either on the frequency, the media and the clarity of materials of consumer education. Otherwise, the higher familiy members would reduced the clarity of consumer education materials. The younger respondents, would increase the intensity of consumer education.

Dewi Intan Permatahati1*), Ujang Sumarwan1), Megawati Simanjuntak2)

1Departemen Ilmu Keluarga dan Kosumen, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor, Bogor 16680, Indonesia

*)E-mail: dewintanpermatahati@gmail.com


Abstrak

Munculnya makanan kemasan memberikan kemudahan bagi ibu rumah tangga sebagai pengatur utama kebutuhan makanan anggota keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh gaya hidup dan kelompok acuan terhadap sikap ibu rumah tangga di wilayah perkotaan dan perdesaan Bogor dalam dalam membeli makanan kemasan. Disain penelitian yang digunakan adalah cross sectional study dengan lokasi penelitian di Kelurahan Baranangsiang dan Desa Cibatok 1. Contoh penelitian sebanyak 80 rumah tangga dengan keluarga lengkap yang mengkonsumsi makanan kemasan yang dipilih secara random sampling. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan yang nyata antara gaya hidup dan sikap (kognitif dan konatif) ibu rumah tangga di perkotaan dan perdesaan. Selain itu, terdapat hubungan yang nyata positif antara tingkat pendidikan, gaya hidup, dan sikap. Faktor yang memengaruhi sikap ibu rumah tangga dalam pembelian makanan kemasan hanya tingkat pendidikan.

 

Kata kunci: makanan kemasan, kelompok acuan, gaya hidup, sikap

 

Lifestyle and Reference Group Relation with Attitude Household in Purchasing Food Packging Products in Bogor’s Rural and Urban Area

 

Abstrack

 

The emergence of food packaging make it easy for household as a main regulator of food needs family members. This study aims to analyzing the effect of lifestyle and reference group on attitude household in Bogor’s rural and urban area in purchasing food packaging products. The design of study that used is cross sectional, with research locations in Baranangsiang and Cibatok 1 villages. The sample of this study was 80 household with complete family who consumed food packaging products and selected by random sampling. The result showed significant differences between lifestyle and attitude (cognitive and conative) household in urban and rural area. Moreover, there was positive significant relation between the level of education, lifestyle, and attitude. Factors that influenced the attitude of household in purchasing food packaging only the level of education.

 

Keywords: Food packaging products, reference group, lifestyle, attitude

PENDAHULUAN

Berkembangnya modernisasi seiring teknologi serta pengaruh budaya asing memberikan dampak terhadap industri perdagangan, khususnya makanan. Hal tersebut mendorong beberapa produsen untuk menciptakan produk makanan kemasan baik makanan maupun minuman, seperti Procter and Gamble Pringles On The Go makanan ringan, dan Kraft Quick Melt sebuah olahan keju dari PT Kraft Ultrajaya Indonesia (Euromonitor International 2010). Kemudahan dan kepraktisan yang ditawarkan oleh produk makanan kemasan menarik minat beli ibu rumah tangga sebagai konsumen yang memiliki banyak aktivitas, sekaligus menjadi penanggungjawab atas kebutuhan makanan anggota keluarga.

Perilaku ibu rumah tangga dalam berbelanja makanan kemasan pasti berbeda satu sama lainnya, hal ini disebabkan oleh faktor internal (usia, pendidikan, pendapatan, besar keluarga, dan gaya hidup) dan eksternal (kelompok acuan dan lokasi geografis) yang memengaruhinya. Perkotaan dan perdesaan memiliki perbedaan dalam kebiasaan, nilai, dan norma yang dianut, sehingga akan membentuk gaya hidup ibu rumah tangga yang berbeda (Sumanvijit dan Promsad 2009). Hal tersebut akan berpengaruh terhadap perbedaan sikap dalam pembelian makanan kemasan antara ibu rumah tangga di wilayah perkotaan dengan perdesaan.

Penelitian ini dilakukan untuk melihat pengaruh gaya hidup dan keompok acuan terhaap sikap ibu rumah tangga dalam melakukan pembelian produk makanan kemasan, sehingga penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi karakteristik rumah tangga sebagai konsumen produk makanan kemasan; (2) mengidentifikasi kelompok acuan, gaya hidup, dan sikap ibu rumah tangga dalam membeli produk makanan kemasan; (3) menganalisis hubungan karakteristik responden dan keluarga, gaya hidup dan kelompok acuan terhadap sikap ibu rumah tangga dalam pembelian produk makanan kemasan; dan (4) menganalisis pengaruh gaya hidup dan kelompok acuan terhadap sikap ibu rumah tangga dalam pembelian produk makanan kemasan.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan bagian dari penelitian “payung”, yang dilakukan di Baranangsiang sebagai perwakilan wilayah perkotaan dan Desa Cibatok 1 sebagai perwakilan wilayah perdesaan. Disain penelitian yang digunakan adalah cross sectional study. Pemilihan lokasi dilakukan secara purposive yaitu di Kota dan Kabupaten Bogor. Pemilihan kecamatan, kelurahan, RW, dan RT dilakukan secara random sampling yaitu Kelurahan Baranangsiang, Kecamatan Bogor Timur sebagai perwakilan perkotaan dan Desa Cibatok 1, Kecamatan Cibungbulang sebagai perwakilan perdesaan. Populasi dari penelitian ini ialah ibu rumah tangga yang berkeluarga lengkap yang membeli dan mengkonsumsi produk makanan kemasan selama tiga bulan terakhir. Teknik pengambilan contoh dilakukan dengan metode random sampling. Jumlah responden sebanyak 80 ibu rumah tangga yang merupakan bagian dari sampel penelitian payung.          Data primer meliputi karakteristik responden dan keluarga (usia, tingkat pendidikan, pendapatan, besar keluarga, pengeluaran total, dan pengeluaran makanan kemasan), kelompok acuan, gaya hidup, dan sikap. Analisis data yang digunakan ialah deskriptif untuk menjelaskan karakteristik responden dan keluarga, kelompok acuan dan sikap yang berupa tabulasi silang. Variabel sikap dikategorikan berdasarkan aspek (kognitif, afektif, dan konatif). Gaya hidup dianalisis menggunakan uji hierarchical kluster yang bertujuan untuk mengklasifikasikan, sehingga didapat klasifikasi gaya hidup hemat dan gaya hidup boros yang diukur dengan psikografik dengan komponen AIO (activity, interest, and opinion). Untuk melihat perbedaan karakteristik, kelompok acuan, gaya hidup, dan sikap responden di perkotaan dan perdesaan dianalisis menggunakan uji beda independent sample t-test. Uji korelasi Pearson/Spearman digunakan untuk melihat hubungan antarvariabel yang diteliti dan uji regresi linear berganda digunakan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi sikap ibu rumah tangga dalam pembelian produk makanan kemasan.

HASIL PENELITIAN

Karakteristik Keluarga Responden

Tabel 1 menunjukkan usia responden dalam penelitian ini berada pada kategori dewasa awal menurut Papalia dan Old (2009) yaitu pada rentang 18 sampai 40 tahun. Keluarga di perkotaan paling banyak berada di kategori keluarga sedang (55.0%), sedangkan di perdesaan berada di kategori keluarga kecil (72.5%). Rata-rata tingkat pendidikan responden di perkotaan ada pada jenjang SMA, sedangkan persentase pendidikan responden di perdesaan ialah SD. Rata-rata pendapatan total keluarga di perkotaan sebesar Rp 1 977 750 sedangkan di perdesaan sebesar 1 452 500. Rata-rata pengeluaran total keluarga dan pengeluaran makanan kemasan responden di perkotaan lebih besar di banding responden di perdesaan, hal ini di duga responden di perkotaan lebih banyak berada pada kategori keluarga sedang dengan jumlah anggota keluarga 5-6 orang (BKKBN 1996). Hasil uji beda independent t-test antara responden di wilayah perkotaan dan perdesaan menunjukkan terdapat perbedaan yang nyata pada tingkat pendidikan (p=0.000) responden, pendapatan total keluarga (p=0.040), dan pengeluaran makanan kemasan (p=0.004).

Peubah Perkotaan Perdesaan  

p-value

Rataan±Sd Rataan±Sd
Usia istri (tahun) 38.40±9.75 38.55±11.77 0.950tn
Besar keluarga (orang)                     4.55±0.96 4.05±1.28 0.050tn
Tingkat pendidikan istri (tahun) 4.17±1.24 3.17±0.712 0.000**
Pendapatan keluarga (Rp/bulan) 1 977 750±1 399 343 1 452 500±1 568 927 0.180tn
Pengeluaran total keluarga (Rp/bulan) 1 459 975±718 875.99 1 133 900±7 00 948 0.040*
Pengeluaran

makanan kemasan (Rp/bulan)

287 145±324 772. 757 126 737±107 210.97 0.004**

Ket: ** nyata pada p-value<0.01; * nyata pada p-value<0.05; tn= tidak nyata

 

Kelompok Acuan

Kelompok acuan (reference group) adalah seorang individu atau sekelompok orang yang secara nyata memengaruhi perilaku pembelian (Sumarwan 2004). Berdasarkan Tabel 2 persentase terbesar jumlah kelompok acuan kedua kelompok responden ialah satu kelompok acuan, yaitu lebih dari tiga perlima (62.5%) responden di wilayah perkotaan dan kurang dari tiga perempat (72.5%). Hasil uji beda tidak menunjukkan adanya perbedaan jumlah kelompok acuan dalam pembelian produk makanan kemasan antara responden di wilayah perkotaan dan perdesaan, namun kelompok acuan yang paling dipercaya oleh kedua kelompok responden ialah keluarga. Peran kelompok acuan tersebut diantaranya memengaruhi pilihan produk, memengaruhi pemilihan tempat belanja, dan memengaruhi keputusan pembelian responden.

 

Tabel 2 Sebaran jumlah kelompok acuan responden di wilayah perkotaan dan                    perdesaan

Jumlah Kelompok Acuan* Perkotaan (n=40) Perdesaan (n=40)
n                           % n                           %
Tidak memiliki (0) 2                             5.0 0                             0.0
Memiliki satu kelompok acuan 25                       62.5 29                       72.5
Memiliki dua kelompok acuan 4                           10.0 2                             5.0
Memiliki tiga kelompok acuan 4                           10.0 7                        17.5
Memiliki empat kelompok acuan 4                           10.0 1                             2.5
Memiliki lima kelompok acuan 1                             2.5 1                             2.5
Uji beda berpasangan (sig) 0.767 (tn)

Ket: kelompok acuan terdiri dari keluarga, selebritis, teman, kelompok arisan, tetangga, dan lainnya. tn=tidak nyata

 

Gaya Hidup

          Gaya hidup adalah bagaimana seseorang menggunakan uang dan waktunya melalui aktivitas, minat, dan opini dalam kesehariannya. Dalam penelitian ini gaya hidup diklasifikasikan menjadi dua kategori dengan menggunakan uji Hierarchical Kluster yaitu teknik untuk mengelompokkan gaya hidup menjadi beberapa kluster yang memiliki kemiripan. Kluster pertama merupakan responden yang tergolong memiliki gaya hidup hemat, dan kluster kedua responden yang tergolong memiliki gaya hidup boros. Tabel 3 menunjukkan bahwa lebih dari setengah (55.0%) responden di perkotaan memiliki gaya hidup hemat, begitupula dengan responden di wilayah perdesaan hampir seluruh responden (92.5%) bergaya hidup hemat, namun jumlah responden yang memiliki gaya hidup boros cenderung lebih banyak di perkotaan (45.0%) dibanding wilayah perdesaan (7.5%), hal tersebut dimungkinkan karena gaya hidup responden di perkotaan lebih konsumtif dibanding perdesaan. Berdasarkan hasil uji beda, terdapat adanya perbedaan gaya hidup responden perkotaan dengan responden perdesaan (p=0.000) terhadap sikap pembelian produk makanan kemasan.

 

Tabel 3 Sebaran responden berdasarkan kluster gaya hidup di wilayah perkotaan dan         perdesaan

Kluster gaya hidup Perkotaan (n=40) Perdesaan (n=40)
     n                         % n                     %
Gaya hidup hemat    22                       55.0 37                   92.5
Gaya hidup boros    18                       45.0 3                       7.5
p-value 0.000**

Ket: **nyata pada p<0.01

 

 

 

 

 

 

 

Sikap Konsumen

          Schiffman dan Kanuk (2008) mengatakan sikap terdiri dari tiga aspek utama yaitu kognitif, afektif, dan konatif. Menurut Sumarwan (2002) kognitif adalah pengetahuan dan persepsi terhadap suatu objek. Tabel 4 memperlihatkan kedua kelompok responden memiliki kognitif pada kategori kurang, namun di wilayah perkotaan masih ada responden yang memiliki kognitif yang baik (15.0%). Hal ini diduga karena tingkat pendidikan responden perkotaan lebih tinggi daripada responden perdesaan, sehingga berdasarkan hasil uji beda terdapat perbedaan yang nyata antara aspek kognitif kedua kelompok responden (p=0.001) terhadap makanan kemasan.

Aspek afektif terkait dengan emosi atau perasaan, suka atau tidak suka terhadap terhadap suatu produk (Solomon 2006). Hampir seluruh responden di perkotaan (80.0%) dan perdesaan (97.5) memiliki afektif yang kurang terhadap makanan kemasan. Sumarwan (2002) mengatakan konatif adalah kecenderungan atau keinginan membeli suatu produk. Tabel 4 menunjukkan bahwa responden perkotaan (42.5%) dan responden perdesaan (52.5%) sama-sama memiliki konatif yang rendah terhadap makanan kemasan. Namun, pada responden perkotaan masih ada yang memiliki konatif yang tinggi terhadap makanan kemasan (27.5%), sehingga berdasarkan hasil uji beda terdapat perbedaan yang signifikan (p=0.012) antara aspek konatif responden perkotaan dengan responden perdesaan.

           

Tabel 4 Sebaran kategori sikap kedua kelompok responden

 

No

Kategori Perkotaan Pedesaan
n %      N        %
Kognitif
1 Kurang (<60) 27 67.5 36 90.0
2 Sedang (60-80) 7 17.5 4 10.0
3 Baik (>80) 6 15.0 0 0.0
Rataan±SD 52.81±24.27 37.50±16.27
Uji beda berpasangan (sig) 0.001**
Afektif
1 Kurang menyukai (<60) 32 80.0 39 97.5
2 Netral (60-80) 6 15.0 1 2.5
3 Menyukai (>80) 2 5.0 0 0.0
Rataan±SD 38.12±25.15 35.93±12.40
Uji beda berpasangan (sig) 0.623tn
Konatif
1 Rendah (<60) 17 42.5 21 52.5
2 Sedang (60-80) 12 30.0 19 47.5
3 Tinggi (>80) 11 27.5 0 0.0
Rataan±SD 59.16±31.57 42.50±26.14
Uji Beda Berpasangan (sig) 0.012*
Rataan sikap total±Sd 28.10±3.10
Sikap Total Uji Beda Berpasangan (sig) 0.006**

Ket : *nyata pada p-value<0.05; **nyata pada p-value<0.01; tn=tidak nyata

 

Hubungan antara Karakteristik Responden, Kelompok Acuan, Gaya Hidup, dan Sikap

Berdasarkan uji korelasi Pearson, diperoleh hasil bahwa tingkat pendidikan responden berhubungan nyata positif dengan gaya hidup (r=0.0532; p=0.000), yang artinya semakin tinggi tingkat pendidikan gaya hidup responden semakin hemat. Selain itu, terdapat pula hubungan nyata positif tingkat pendidikan dengan serta sikap responden (r=0.352; p=0.001). Hal tersebut menunjukkan semakin tinggi tingkat pendidikan responden, maka semakin baik sikapnya dalam memilih dan membeli produk makanan kemasan. Berdasarkan uji korelasi Spearman Lokasi geografis berhubungan nyata negatif dengan gaya hidup (r=-0.544; p=0.000) dan sikap (r=-0.308; p=0.005), yang berarti semakin jauh tempat tinggal responden maka semakin hemat gaya hidupnya dan semakin jauh tempat tinggal maka semakin kurang baik sikapnya dalam membeli makanan kemasan. Uji korelasi Pearson juga menunjukkan variabel kelompok acuan tidak berhubungan dengan karakteristik maupun gaya hidup dan sikap responden, namun terdapat hubungan yang nyata positif antara gaya hidup dengan sikap ibu rumah tangga (r=0.388; p=0.007). Hal ini berarti semakin positif gaya hidup ibu rumah tangga maka semakin baik sikapnya dalam membeli produk makanan kemasan.

 

Faktor-faktor yang memengaruhi gaya hidup

Tabel 5 menunjukkan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap gaya hidup ibu rumah tangga setelah dnalisis dengan uji regresi linear berganda. Faktor yang berpengaruh nyata dengan gaya hidup ialah lokasi geografis (β=0.354; p=0.001), tingkat pendidikan responden (β=0.296; p=0.006) dan pendapatan total keluarga (β=0.187; p=0.046). Hasil penelitian tersebut sesuai dengan pernyata Suhardjo (1989).

Tabel 5 Faktor yang berpengaruh terhadap gaya hidup ibu rumah tangga

Peubah    Gaya Hidup
Β p-value
Usia responden (tahun) -0103 0.287tn
Besar keluarga (orang) 0.117 0.221tn
Lokasi geografis (perkotaan, perdesaan) 0.354 0.001**
Tingkat pendidikan responden (tahun) 0.296 0.006**
Pendapatan total keluarga (Rp/bulan) 0.187 0.046*
Kelompok acuan (skor) -0.036 0.684tn
F-hitung 10.236

0.412

0.000**

Adj. R2
p-value

 

Faktor-faktor yang Memengaruhi Sikap dalam Pembelian Makanan Kemasan

Hasil pada Tabel 5 menunjukan bahwa hanya tingkat pendidikan responden yang berpengaruh nyata positif terhadap sikap ibu rumah tangga dalam membeli produk makanan kemasan (β=0,296; p=0,037), hal ini sesuai dengan hasil penelitian Sanithangkull et al. (2012) yang mengatakan bahwa pendidikan berpengaruh terhadap sikap konsumen dalam penggunaan kendaraan ramah lingungan.

 

 

Tabel 5 Faktor yang berpengaruh terhadap sikap ibu rumah tangga

Peubah        Sikap
Β                      p-value
1. Lokasi geografis (1=perkotaan;    0=perdesaan) 0.179 0.160tn
2.Usia istri (tahun)        0.044 0.711tn
Besar keluarga (orang) -0.003 0.981tn
3. Tingkat pendidikan responden (tahun) 0.296     0.037*
4. Pendapatan total keluarga (Rp/bulan) -0.026 0.934tn
5. Pengeluaran total makanan kemasan     (Rp/bulan) 0.044 0.752tn
6. Gaya hidup (skor) -0.014 0.912tn
7. Kelompok acuan (skor) -0.214 0.054tn
F 2.329
Adj. R2 0.119
p-value 0.028*

Ket: *nyata pada p-value<0.05; tn=tidak nyata

 

 

PEMBAHASAN

Pada penelitian ini, terdapat perbedaan gaya hidup dan sikap antara responden di perkotaan dan perdesaan, hal ini sesuai dengan hasil penelitian Sumnvijit dan Promsa (2009) yang mengatakan bahwa lokasi tempat tinggal akan membentuk gaya hidup yang berbeda. Sumarwan (2011) mengatakan faktor utama pembentuk gaya hidup ialah usia, tingkat pendidikan dan pendapatan. Hasil penelitian menunjukkan responden di perkotaan cenderung lebih banyak memiliki gaya hidup boros dibanding responden di perdesaan yang lebih banyak memiliki gaya hidup hemat, hal ini dimungkinkan karena responden di perkotaan lebih konsumtif dibanding responden di perdesaan. Sifat konsumtif tersebut disebabkan karena perbedaan pendapatan antara konsumen di perkotaan dan perdesaan. Hal ini ditunjang dengan hasil penelitian Singh (2012) yang mengatakan bahwa konsumen perdesaan cenderung memiliki pertimbangan dan rencana yang panjang sebelum membeli suatu produk dibanding konsumen perdesaan. Tingkat pendidikan yang berbeda membuat sikap ibu rumah tangga berbeda dalam aspek kognitif dan konatif terhadap pembelian produk makanan kemasan. Kecenderungan membeli makanan kemasan yang rendah pada responden di perdesaan sesuai dengan hasil penelitian Amarnath dan Vijayudu (2011) yang menyatakan responden diperdesaan masih belum percaya dan terbiasa mengkonsumsi makanan kemasan, selain faktor pendapatan yang masih belum mencukupi.

Hasil uji korelasi Pearson menunjukkan variabel yang berhubungan nyata positif terhadap sikap ibu rumah tangga adalah gaya hidup. Berdasarkan hasil uji korelasi tidak terdapat hubungan antara kelompok acuan dengan gaya hidup maupun sikap responden, hal ini dikarenakan jumlah kelompok acuan yang dimiliki responden di kedua kelompok sama yaitu hanya keluarga yang paling dipercaya. Karakteristik responden yang berhubungan nyata positif terhadap sikap hanya tingkat pendidikan responden. Berdasarkan hasil uji regresi linear berganda ada beberapa faktor yang berpengaruh terhadap gaya hidup ibu rumah tangga yaitu lokasi geografis, pendidikan, dan pendapatan. Nanum, tidak terdapat pengaruh gaya hidup dan kelompok acuan terhadap sikap ibu rumah tangga dalam pembelian makanan kemasan, hanya tingkat pendidikan responden yang berpengaruh nyata positif terhadap sikapnya. Sedikit faktor yang berpengaruh terhadap sikap ibu rumah tangga di duga karena produk makanan kemasan dirasa masih tergolong produk biasa yang tidak memerlukan pertimbangan dan perencaan sebelum membeli, seperti produk elektronik, mobil atau rumah, sehingga tidak terlihat adanya pengaruh gaya hidup dan kelompok acuan terhadap sikap responden di perkotaan dan perdesaan (Singh 2012).

SIMPULAN

Gaya hidup yang berbeda antara ibu rumah tangga di perkotaan dan perdesaan dikarenakan lokasi georafis, pendidikan, dan pendapatan. Hal tersebut dapat dilihat dari lebih banyak ibu rumah tangga di perkotaan yang memiliki gaya hidup boros dibanding ibu rumah tangga di perdesaan. Hal tersebut mebuat sikap yang berbeda nyata dalam membeli makanan kemasan. Hasil uji hubungan menunjukkan hanya tingkat pendidikan, pendapatan, pengeluaran, dan gaya hidup terhadap sikap ibu rumah tangga dalam membeli produk makanan kemasan. Gaya hidup dan kelompok acuan tidak berpengaruh terhadap sikap ibu rumah tangga, hanya tingkat pendidikan yang berpengaruh nyata positif terhadap sikap ibu rumah tangga. Hal ini dikarenakan tingkat pendidikan adalah salah satu faktor pembentuk gaya hidup.

SARAN

Ruang lingkup penelitian ini adalah mengkaji kelompok acuan, gaya hidup, dan sikap ibu rumah tangga terhadap pembelian produk makanan kemasan. Sikap ibu rumah tangga perdesaan yang masih kurang terhadap pembelian produk makanan kemasan dikarenakan kurangnya informasi yang didapat dan beberapa faktor lainnya yang tidak diteliti dalam penelitian ini seperti tingkat pengetahuan responden. Untuk itu, pada penelitian selanjutnya diharapkan tingkat pengetahuan responden dapat diukur dan dijelaskan, sehingga dapat diketahui faktor apa saja yang membuat kurangnya sikap ibu rumah tangga untuk membeli makanan kemasan. Selain itu diharapkan adanya penyuluhan atau pemberian informasi yang tepat tentang memilih produk makanan kemasan yang baik sehingga aman untuk dikonsumsi.

DAFTAR PUSTAKA

Armanathh B, Vijayudu G. 2011. Rural Consumer’s Attitude Toward Branded Packaged Food Products. Asia Pacific Journal of Social Science. 3 (1). 147-159

Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). 1996. Badan Kebijakan Program Keluarga Berencana Nasional. Jakarta: BKKBN.

Euromonitor International. 2013. Retailing-Indonesia. [Internet]. [diunduh 20 Juli 2013]. Tersedia dari: http//:www.euromonitor.com

Sanithangkul et al. 2012. Factor Affecting Consumer Attitude Toward The Use of Eco-Car Vehicles. Procedia-Social and Behavioral Sciences. 40. 461-466.

Schiffman LG, Kanuk LL. 2008. Perilaku Konsumen. Kasip Z, translator. Maharani R, editor. Jakarta (ID): PT. Indeks. Translated from: Consumer Behaviour.

Setiadi JN. 2008. Perilaku Konsumen : Konsep dan Implikasi untuk Strategi Penelitian Pemasaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Singh J. 2012. Cautions Buying: Differences Between Rural and Urban Households. Global Journal of Management and Business Research. 12 (9). 9-16.

Sumarwan U. 2002. Perilaku Konsumen: Teori dan Penerapannya dalam Pemasaran. Bogor: Ghalia Indonesia.

Sumarwan U, Jauzi A, Mulyana A, Karno BN, Mawardi PK, Nugroho W. 2011. Riset Pemasaran dan Konsumen. Sumarwan U, editor. Bogor: IPB Press.

Sumanvijit W, Promsa-ad S. 2009. The Insight Study of Consumer Life-style and Purchasing Behaviors in Songkla Province, Thailand. International Journal of Marketing Studies. 1(2): 66-73.

Solomon MR. 2006. Consumer Behavior (fifth ed.). New Jersey: Prentice Hall.

 

Kamis, 23 Oktober 2014 | 16:51

Jakarta – Ada banyak upaya yang akan dilakukan produsen produk dalam maupun luar negeri untuk meningkatkan jumlah transaksi. Salah satunya melalui program diskon. Namun, masih banyak masyarakat di Indonesia yang belum memahami benar konsep diskon.

Mayoritas konsumen tergiur melihat label diskon, sebab menganggap, jika sebuah barang telah diberi potongan harga, maka akan lebih murah. Padahal, seringkali pemasar telah menaikkan terlebih dahulu harganya, baru diberi label diskon. Hal tersebut disampaikan, staf pengajar Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen Fakultas Ekologi Manusia IPB Dr Megawati Simanjuntak, Kamis (23/10).

Mega, menjelaskan, ketidakmampuan konsumen dalam membedakan harga makanan kemasan yang paling murah antara yang telah didiskon dan yang tidak didiskon mengindikasikan masih banyak konsumen yang terkecoh.

Ia mencontohkan, susu di toko A dijual dengan harga Rp 23.000 dengan diskon 10 persen, sedangkan di toko B dijual dengan harga Rp 20.000. Dari riset kecil-kecilan terhadap sekelompok orang, didapati, sebanyak 30 persen konsumen memilih membeli susu di toko A dibandingkan susu yang tidak didiskon di toko B. Sementara 11,6 persen konsumen menyatakan tidak mengetahui susu mana yang harganya lebih murah.

Selain itu, Mega mengingatkan kepada konsumen untuk membaca label setiap produk. Menurutnya, hal itu perlu dilakukan sebab label merupakan informasi penting menyangkut nama produk, bahan yang terkandung, isi, daya tahan, kegunaan produk, keterangan halal, hingga tanggal kedaluwarsa.

“Sebanyak 37,9 persen konsumen yang sering membaca label makanan ketika membeli suatu produk pangan, selebihnya tak memperhatikan label,” paparnya.

Lebih lanjut Mega mengatakan, beberapa alasan yang menyebabkan konsumen tidak terbiasa membaca label makanan kemasan seperti loyalitas merek dagang dan faktor keterbatasan waktu. “Beberapa kasus yang merugikan konsumen adalah makanan kemasan yang dibeli seolah-olah terisi penuh, padahal kenyataanya tidak penuh,” katanya.

Hasil penelitian juga menunjukan hanya 21,2 persen pembeli yang menyampaikan keluhan ketika merasa kurang puas dengan produk yang dibelinya. “Perlu diketahui, salah satu hak konsumen yang tercantum dalam Undang-Undang 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen (UUPK) adalah mendapat ganti rugi apabila barang yang diterima tidak sesuai dengan harga yang dibelinya,” tambah Mega.

Penulis: VEN/NAD

Sumber:Suara Pembaruan

 

http://www.beritasatu.com/industri-perdagangan/219634-malas-baca-label-konsumen-rentan-terjebak-program-diskonan.html

 

telah Terbut di : Jurnal Entrepreneur dan Entrepreneurship Volume 2 Nomer 1. Penerbit Lembaga Penelitian dan Publikasi Universitas Ciputra

Nomor ISSN 2302-1802

Abstract: This study aimed (1) to identify internal and external characteristic of women farmers who are members of a group of women farmers named Melati; (2) to analyze the capacity of Melati members; (3) to analyze the participation level of Melati members; (4) to analyze the effect of internal and external characteristic to the capacity of woman; and (5) to analyze the effect of internal characteristics, external characteristics, and the capacity of woman to the women’s participation. The population of this study was all of the members of Melati by the number of 30 members. The quantity of samples was the same with population called cencus sampling. Data was collected by using a questionnaire that had reliability 0.714-0.921. The result showed that education level, motivation, and three of the five external characteristics (norm, cooperation, and conflict) affect the capacity of women, while family members size, motivation, and women’s capacity affect womens’s participation.

 

Abstrak: Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengidentifikasi karakteristik internal dan eksternal perempuan tani yang tergabung dalam kelompok wanita tani (KWT) Melati; (2) menganalisis kapasitas perempuan tani yang tergabung dalam KWT Melati dalam melakukan wirausaha; (3) menganalisis tingkat partisipasi perempuan tani dalam kegiatan KWT Melati; (4) menganalisis pengaruh karakteristik internal, eksternal terhadap kapasitas perempuan; dan (5) menganalisis pengaruh karakteristik internal, eksternal dan kapasitas perempuan tani terhadap partisipasi perempuan tani dalam kegiatan KWT Melati. Populasi penelitian ini adalah seluruh anggota KWT Melati Desa Cikarawang yang sekaligus menjadi sampel dengan jumlah 30 anggota kelompok sehingga pengambilan sampel disebut sensus. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner yang memiliki reliabilitas berkisar 0.714-0.921. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lama pendidikan (p<0.05), motivasi (p<0.1) dan tiga dari lima karakteristik eksternal (norma, kerja sama, dan konflik) mempengaruhi kapasitas perempuan sedangkan jumlah anggota keluarga (p<0.1), motivasi (p<0.1), dan kapasitas perempuan (p<0.01) mempengaruhi partisipasi perempuan.